Jumat, 05 Juni 2015

Kegiatan Sosial Perpustakaan Berjalan

1Latar Belakang dan alasan
Perkembangan tekhnologi yang terlalu cepat, membuat beberapa peranan penting dari sebuah media menjadi berkurang. Terutama peranan sebuah buku, buku dalam bentuk percetakan (bentuk kertas). Banyak orang mengganggap buku (hardcopy) tidaklagi menjadi penting, mudah digantikan oleh media internet dan gadget. Padahal informasi pada internet hanya bersumber dari satu ahli kemudian disebarluaskan melalui media internet, informasi seperti ini tidaklah lengkap dan kuat. Berbeda dengan buku, walaupun sedikit mahal, namun tetap saja seperti pepatah “ada uang ada barang.” Banyak informasi berbeda yang menarik dari berbagai buku, berbeda dengan internet yang hanya dari satu sumber yang sama.
Melihat pemikiran orang tua dan anak yang menganggap buku mulai tidak penting (dapat digantikan oleh internet), kami ingin memberi pengetahuan lebih kepada orang tua dan anak bahwa buku(hardcopy) masih sama pentingnya seperti fungsinya dahulu yang dapat memberi pengetahuan lebih pada masyarakat.
Program pemerintah juga sudah mulai menggalakkan aksi perpustakaan berjalan ini dengan mengalihfungsikan bemo menjadi perpustakaan berjalan. Namun bemo ini hanya sedikit, dan jam operasionalnya sangatlah sebentar. Oleh karena itu kami akan membantu melancarkan program pemerintah sehingga fungsi buku tidaklah hilang, serta anak-anak menjadi terbiasa untuk membaca.
Dengan berbagai buku yang kami miliki, dan dengan beberapa rak (beserta poster perpustakaan berjalan) kami berkeliling tempat sekitar gang dan sekitar sekolah untuk menemukan anak-anak dan orang tua yang masih memiliki anak kecil.

2Tempat Kegiatan
Berkeliling di sekitar area binus syahdan. Memasuki gang dan perumahan masyarakat sekitar gang U, gang H. Senen, gang H. Jaimin, gang Keluarga.

3Waktu Kegiatan

Tanggal 15 Mei dan tanggal 29 Mei

Kegiatan dimulai pada jam 9 pagi. Hari sebelum kegiatan, masing-masing buku dikumpulkan lalu dipilih, buku yang dimasukkan berupa buku sejarah, buku ilmiah, pelajaran, pendidikan kewarganegaraan, kamus, buku bergambar, dan berbagai tutorial. Buku dimasukkan kedalam rak, kemudian bersama sama berjalan keliling pemukiman dan sekolah sekitar untuk memulai perpustakaan keliling. Dalam sesi pertama(tanggal 15 Mei), beberapa anak yang ingin meminjam buku dicatat nama dan tempatnya kemudian akan dikembalikan di sesi ke dua(29 Mei) di jam yang sama. Beberapa anak yang ingin membaca ditempat akan kami tunggu dan sambil duduk bersama mereka, lalu menjelaskan beberapa buku tersebut. Beberapa anak ada yang antusias melihat buku bergambar, namun beberapa anak tersebut tidak dapat membaca, kemudian kami ajarkan cara membaca beberapa waktu. Tujuan minat membaca harus terus ditingkatkan, beberapa anak menolak untuk mendekat dan membaca, namun dengan beberapa permen, kami mengajak mereka agar mau membaca buku (kemudian memberi permen tersebut). Pada awalnya anak-anak tersebut terpaksa untuk membaca buku(demi mendapatkan permen) namun setelah membuka buku kemudian membaca, mereka menjadi tertarik dan berminat bahkan mau meminjam buku untuk dibaca kemudian dikembalikan di sesi ke 2.

Kesimpulan : kegiatan perpustakaan keliling ternyata sangat diminati oleh anak-anak. Fungsi buku sebagai pemberi informasi tidaklah hilang, bahkan semakin bermanfaat. Daya tarik buku bahkan sangat tinggi bahkan sejak melihat sampulnya, minat baca sangatlah tinggi di kalangan anak-anak, namun akan berkurang jika kebiasaan membaca tidak diperkenalkan. Kegiatan perpustakaan kelilinglah salah satu cara untuk membangun kebiasaan untuk membaca buku.